Jakarta, 24 September 2026 – PT PLN (Persero) menjalin lima kolaborasi strategis dengan estimasi nilai hingga Rp3,3 triliun. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya PLN mempercepat transisi energi bersih sekaligus mendukung kedaulatan energi nasional.
Adapun kesepakatan kolaborasi ini ditandatangani dalam gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Selasa, 22 September 2026.
Lima kolaborasi tersebut mencakup inisiatif dedieselisasi terintegrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS) Hibrida di wilayah terisolasi, modernisasi Gardu Induk Tegangan Tinggi berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta penguatan rantai pasok dan alih teknologi komponen kritis kelistrikan.
Selain itu, kolaborasi mencakup pemeliharaan aset generator dan motor listrik serta ekspansi global layanan maintenance, repair, and overhaul (MRO) pembangkit di kawasan Asia-Pasifik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan agar Indonesia konsisten untuk memenuhi target Net Zero Emissions (NZE) di tahun 2050 sampai dengan 2060.
“Caranya apa? Di RUPTL kita dorong (sekitar) 70 persen ada energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt (GW) PLTS,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Kamis, (24/9/2026).
Bahlil merinci, program PLTS 100 GW membutuhkan total investasi sebesar Rp1.140 triliun. Program tersebut diproyeksikan memberikan penghematan hingga Rp73,9 triliun per tahun, menyerap 5,518 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 140,16 juta ton CO2. Program tersebut juga berpotensi menghasilkan nilai pasar karbon hingga Rp6,31 triliun.
Menurut Bahlil, pengembangan energi terbarukan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Pemerintah juga mendorong penggunaan produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan proyek tersebut.
“Untuk bisa kita melakukan ini, maka harus ada kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pengusaha. Dan kita mengharapkan, untuk memenuhi semua kebutuhan daripada proyek ini, kita akan memprioritaskan bahan-bahan produksi dari dalam negeri,” kata Bahlil.
“Kalau di dalam negerinya tidak cukup kita juga akan membuka peluang untuk melakukan impor, tapi betul-betul selektif. Kita tidak ingin pasar dalam negeri diisi oleh produk-produk yang dari luar kemudian mematikan produk dalam negeri,” sambung Bahlil.
Senada, Ketua Dewan Pengawas Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) sekaligus Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pengembangan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian penting dalam memperkuat kedaulatan energi Indonesia.
“Sejalan dengan arahan Bapak Presiden Prabowo, Indonesia harus mandiri energi. Pengembangan infrastruktur kelistrikan menjadi momentumnya, apalagi kebutuhan listrik terus naik karena hilirisasi, pusat data, digitalisasi, dan elektrifikasi. Karena itu kami membangun satu sistem yang utuh, percepatan PLTS 100 GW, dukungan BESS, Green Enabling Super Grid, dan digitalisasi end-to-end. Dari sistem yang kuat ini, ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia ditegakkan,” tegas Darmawan.
Darmawan menjelaskan, Electricity Connect 2026 menjadi ekosistem kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, PLN, mitra, dan investor untuk mendorong implementasi teknologi serta investasi di sektor ketenagalistrikan.
“Indonesia memiliki sumber daya dan permintaan. Dunia memiliki teknologi, keahlian, dan modal. Forum ini mempertemukan kekuatan itu agar kerja sama langsung menjadi program yang nyata. Hari ini sudah ada wujudnya. Kolaborasi-kolaborasi strategis berhasil disepakati hingga mencapai Rp3,3 triliun,” ungkap Darmawan.
Menurut Darmawan, kolaborasi tersebut juga diharapkan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui masuknya investasi, adopsi teknologi, pertumbuhan industri dalam negeri, serta penguatan sumber daya manusia.
“Dari ekosistem ini lahir dampak yang terukur, investasi masuk, teknologi diadopsi, industri dalam negeri tumbuh, dan SDM semakin kuat. Ujungnya sesuai tujuan Bapak Presiden, lapangan kerja tercipta, kawasan bergerak, kemiskinan turun, dan kesejahteraan masyarakat lebih merata,” pungkas Darmawan.





