HomeHEADLINERI Bangun PLTS 100 GWp, Bos PLN: Ketergantungan Energi Fosil Bakal Berkurang

RI Bangun PLTS 100 GWp, Bos PLN: Ketergantungan Energi Fosil Bakal Berkurang

Jakarta, 9 September 2026 – Pemerintah resmi meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) pada akhir Agustus 2026, sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi dan penguatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemanfaatan energi surya dalam skala besar yang dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) membuka peluang PT PLN (Persero) untuk mengoptimalkan sumber energi domestik menjadi pasokan listrik yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sekaligus mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil pada sistem kelistrikan.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan, pengembangan PLTS merupakan bagian dari langkah strategis mengoptimalkan potensi energi surya di Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“Dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya, kita dapat mengurangi ketergantungan pembangkit listrik terhadap bahan bakar fosil sekaligus menciptakan efisiensi biaya energi,” ujar Darmawan dalam keterangannya, dikutip Rabu (9/9/2026).

Tampak PLTS Gilimanuk dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) yang berada di Gilimanuk, Jembrana, Bali. Pembangkit tersebut merupakan salah satu pengembangan tahap awal Program PLTS 100 GWp yang dicanangkan Presiden RI. (Foto: BPMI Setpres)

Darmawan melanjutkan, pengembangan PLTS yang dilengkapi BESS juga menjadi bagian dari transformasi sistem kelistrikan nasional. Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan energi surya yang bersifat intermiten dapat diintegrasikan secara lebih optimal ke dalam sistem kelistrikan.

Di sisi lain, lanjut Darmawan, pengembangan program PLTS 100 GWp juga akan memberikan manfaat ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok industri dalam negeri.

Secara keseluruhan, program ini diproyeksikan menciptakan sekitar 5,518 juta lapangan kerja, yang terdiri atas 3,465 juta lapangan kerja di sektor konstruksi dan 2,053 juta pada sektor manufaktur.

“Program ini diharapkan tidak hanya mendorong transisi menuju energi bersih, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi,” pungkas Darmawan.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menyampaikan pengembangan PLTS 100 GWp yang dilengkapi dengan teknologi BESS berpotensi memberikan penghematan signifikan bagi negara, khususnya dari penggunaan bahan bakar untuk pembangkit listrik.

Bahlil menjabarkan, program PLTS 100 GWp memiliki potensi penghematan hingga Rp73,9 triliun per tahun, yang berasal dari pemanfaatan PLTS dan BESS dibandingkan pembangkit berbahan bakar gas uap/diesel.

Selain memberikan manfaat fiskal, program ini juga diarahkan untuk memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan akses dan ketahanan energi, serta mendukung transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.

“Terlebih lagi, Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kita betul-betul akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ucap Bahlil.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -
Karir

POPULER