HomeCSR & TJSLJaga Bisnis Perkebunan di Tengah Tuntutan Keberlanjutan

Jaga Bisnis Perkebunan di Tengah Tuntutan Keberlanjutan

  • Bagi Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), keberlanjutan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari transformasi perusahaan.

JAKARTA — Hamparan perkebunan bukan sekadar lanskap hijau yang membentang luas. Di baliknya terdapat bisnis yang bergantung langsung pada tanah, air, energi, dan sumber daya alam lainnya. Karena itu, ketika tuntutan terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan semakin menguat, perusahaan perkebunan menghadapi tantangan untuk menjaga produktivitas sekaligus merawat sumber daya yang menopang bisnisnya.

Bagi Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), keberlanjutan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari transformasi perusahaan. Upaya meningkatkan kinerja bisnis berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan dan aspek sosial.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Denaldy Mulino Mauna mengatakan karakter bisnis perkebunan membuat isu keberlanjutan memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan perusahaan.

“Pengelolaan karbon, efisiensi sumber daya, dan pemanfaatan energi terbarukan merupakan bagian dari upaya kami menjaga keberlanjutan bisnis,” ujar Denaldy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

PTPN III meraih dua penghargaan, yakni Carbon Disclosure Award dan Renewable Energy Adoption Award. Dok: PTPN III

Bagi PTPN, keberlanjutan tidak ditempatkan sebagai agenda yang berjalan sendiri di luar kegiatan bisnis. Prinsip tersebut justru diarahkan menjadi bagian dari cara perusahaan mengelola perkebunan dan mengembangkan usaha dalam jangka panjang.

Transformasi PTPN, kata Denaldy, tidaak semata-mata ditujukan untuk mengejar peningkatan kinerja. Perusahaan juga berupaya memastikan pengelolaan usaha memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

Upaya tersebut mendapat pengakuan dalam ESGBusiness Awards 2026 di Singapura pada Kamis (17/9/2026). PTPN III meraih dua penghargaan, yakni Carbon Disclosure Award dan Renewable Energy Adoption Award.

“Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya perusahaan dalam menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari transformasi bisnis perkebunan,” ucap Denaldy.

Dua penghargaan tersebut merepresentasikan dua sisi dari agenda keberlanjutan yang dijalankan perusahaan: bagaimana perusahaan membuka informasi mengenai karbon dan bagaimana energi terbarukan mulai menjadi bagian dari kegiatan usaha.

SVP Strategy & Corporate Performance Management PTPN III Leonardo Alexander Renatus Pane mengatakan penghargaan yang diterima PTPN III berkaitan dengan dua aspek penguatan praktik keberlanjutan perusahaan, yakni keterbukaan informasi mengenai karbon serta penerapan energi terbarukan.

Menurut Leonardo, capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen seluruh insan PTPN dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan di Indonesia.

“Pengakuan ini menginspirasi kami untuk terus melangkah lebih jauh, bertumbuh secara bertanggung jawab, dan menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” ujar Leonardo.

Bukan Sekadar Penghargaan

ESG—lingkungan, sosial, dan tata kelola—bagi PTPN bukan sekadar rangkaian indikator yang harus dipenuhi. Denaldy melihat prinsip tersebut sebagai bagian dari proses transformasi perusahaan.

ESG, menurut dia, berkaitan dengan bagaimana bisnis perkebunan dikelola agar mampu menciptakan nilai dalam jangka panjang. Artinya, peningkatan produktivitas perlu berjalan bersama dengan upaya menjaga sumber daya yang menjadi fondasi bisnis.

Pengakuan melalui ESGBusiness Awards 2026 pun tidak berhenti sebagai pencapaian perusahaan. Denaldy memastikan penghargaan tersebut menjadi dorongan untuk memperkuat penerapan ESG di lingkungan PTPN Group.

“Ke depan, prinsip keberlanjutan akan terus kami integrasikan dalam operasional dan pengembangan bisnis PTPN Group,” kata Denaldy.

ESGBusiness Awards 2026 sendiri menilai nominasi berdasarkan tiga aspek: uniqueness and innovation, effectiveness and impact, serta dynamism. Penilaian mencakup inovasi yang dilakukan perusahaan, dampak yang dihasilkan, serta kemampuan perusahaan beradaptasi dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

Proses penjurian melibatkan sejumlah praktisi ESG dari perusahaan konsultan global. Mereka antara lain Bing Yi Lee dari PwC Singapore, Arina Kok dari Ernst & Young Consulting Sdn Bhd, Tanima Singh dari Kearney, Josette Soh dari Deloitte, serta Cherine Fok dari KPMG Singapore.

Bagi perusahaan yang bisnisnya bergantung pada sumber daya alam, perjalanan menuju keberlanjutan pada akhirnya bukan hanya tentang mendapatkan pengakuan. Ia menjadi bagian dari upaya menjaga agar bisnis tetap dapat tumbuh tanpa mengabaikan sumber daya dan lingkungan yang menjadi tempatnya bertumpu.

Karir
BERITA TERKAIT
- Advertisment -
Karir

POPULER