SOLOK — Lumpur dan bebatuan meninggalkan jejak panjang setelah banjir bandang menerjang sejumlah kawasan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, warga berhadapan dengan pekerjaan besar: membersihkan material yang menutup akses dan mengembalikan kembali ruang-ruang kehidupan yang terdampak bencana.
Sejak Selasa (22/9), tim tanggap darurat dari PT Hutama Karya (Persero) bersama anak perusahaan PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) dan PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL) bergerak ke lokasi. Mereka membawa bukan hanya bantuan logistik pangan, tetapi juga armada alat berat untuk mempercepat pembersihan kawasan terdampak.

Bagi warga, pemulihan setelah bencana tidak berhenti ketika air mulai surut. Endapan lumpur, bebatuan, dan material lain yang terbawa arus menjadi pekerjaan berikutnya. Akses yang tertutup berarti aktivitas warga ikut terhambat. Karena itu, pembersihan menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan kehidupan masyarakat secara perlahan.
Hutama Karya Grup menjalankan penanganan darurat tersebut melalui pilar Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Bantuan dikerahkan dalam dua tahap untuk mempercepat penanganan material pascabencana sekaligus memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan kehadiran perusahaan di tengah situasi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kondisi darurat.
“Sebagai bagian dari keluarga besar BUMN yang beroperasi di wilayah Sumatra Barat, perseroan berkomitmen tidak hanya hadir membangun infrastruktur fisik, melainkan juga tanggap berada di garda depan saat masyarakat membutuhkan uluran tangan dalam kondisi darurat. Mobilisasi armada berat secara bertahap serta penyaluran paket pangan ini diarahkan untuk mempercepat pembersihan puing-puing material lumpur dan bebatuan agar aksesibilitas warga segera pulih,” ujarnya.
Membersihkan yang Tersisa

Dukungan pertama tiba di lokasi pada pukul 15.15 WIB. Satu unit excavator digunakan untuk membantu membersihkan endapan lumpur. Pada saat yang sama, paket sembako berisi bahan pangan pokok disalurkan kepada masyarakat terdampak.
Pembersihan kemudian diperkuat pada tahap kedua. Pada pukul 23.54 WIB, armada tambahan tiba di lokasi. Dua unit Breaker PC 200, tiga unit Exca Bucket, enam unit Dump Truck (DT), dan satu Water Tank dikerahkan untuk menangani material yang lebih tebal dan bongkahan yang lebih keras.
Bantuan tersebut dipusatkan di Kompleks Perkantoran dan Perumahan Arosuka, Kabupaten Solok. Kawasan itu menjadi salah satu titik yang terdampak cukup parah akibat luapan air dan endapan material yang terbawa banjir.
Di lapangan, pengerahan alat berat tidak dilakukan sendiri. Hutama Karya Grup berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok, pemerintah daerah, dan sejumlah pemangku kepentingan. Koordinasi diperlukan agar armada dan bantuan logistik dapat diarahkan sesuai kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Bagi sebuah wilayah yang baru saja dilanda bencana, alat berat bukan semata kendaraan konstruksi. Excavator, dump truck, dan peralatan pendukung menjadi bagian dari upaya membuka kembali akses yang tertutup material banjir. Di balik pekerjaan tersebut, ada harapan agar aktivitas warga dapat kembali berlangsung sedikit demi sedikit.
Infrastruktur dan Kepedulian
Bagi Hutama Karya, keterlibatan dalam penanganan bencana menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan sebagai BUMN yang beroperasi di Sumatera Barat. Perusahaan tidak hanya berperan dalam pembangunan infrastruktur, tetapi juga hadir ketika masyarakat di sekitar wilayah operasinya menghadapi situasi darurat.
Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur memiliki dimensi yang lebih luas. Infrastruktur yang dibangun dan dikelola pada akhirnya berkaitan dengan kehidupan masyarakat, termasuk ketika akses dan fasilitas publik harus dipulihkan setelah bencana.

Hutama Karya Grup menyatakan komitmennya untuk menjaga keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Upaya tersebut dijalankan melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan, termasuk respons terhadap kondisi darurat bencana.
Penanganan banjir bandang di Solok juga sejalan dengan amanat Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-1/MBU/03/2023. Langkah tersebut mendukung pilar Asta Cita Pemerintah dalam memperkuat perlindungan sosial dan ketangguhan menghadapi bencana, serta berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Pemulihan tentu membutuhkan waktu. Setelah air surut dan material mulai disingkirkan, masyarakat masih harus menata kembali kehidupan yang sempat terganggu. Dalam proses panjang itu, bantuan pangan memenuhi kebutuhan hari ini, sementara alat berat membantu membuka jalan menuju hari-hari berikutnya.
Di tengah sisa-sisa bencana, pemulihan akhirnya bukan hanya soal seberapa cepat lumpur dan bebatuan dapat disingkirkan. Ia juga tentang bagaimana masyarakat kembali mendapatkan akses, ruang untuk beraktivitas, dan keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit itu sendirian.





