HomeKINERJAJasa Marga Raup Laba Bersih Rp1,91 Triliun pada Semester I 2026

Jasa Marga Raup Laba Bersih Rp1,91 Triliun pada Semester I 2026

Jakarta, 10 September 2026 – PT Jasa Marga (Persero) Tbk membukukan kinerja positif pada semester I 2026. Tercatat, laba bersih yang distribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,91 triliun.

Capaian tersebut tumbuh 2 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Kinerja positif tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan pendapatan usaha Jasa Marga yang mencapai Rp10,31 triliun atau tumbuh 7,6 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pendapatan tol sebesar Rp9,5 triliun, yang meningkat 6,8 persen yoy. Sementara pendapatan usaha lainnya mencapai Rp798,2 miliar atau melonjak 17,6 persen yoy.

Pendapatan yang tumbuh tersebut turut mendorong peningkatan EBITDA Jasa Marga sebesar 8,1 persen yoy menjadi Rp6,99 triliun. Sehingga, EBITDA margin perseroan tetap terjaga pada level 67,8 persen.

Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan kondisi fundamental dan keuangan yang sehat memberikan ruang bagi perseroan untuk melanjutkan pengembangan bisnis secara prudent sekaligus menangkap peluang pertumbuhan baru.

“Kami melihat prospek bisnis Jasa Marga ke depan tetap positif. Dengan fundamental bisnis dan kondisi financial yang sehat, menjadi fondasi yang kuat untuk terus mengoptimalkan portofolio aset, sekaligus mencetak pertumbuhan nilai yang berkelanjutan (value creation),” ujar Rivan dalam keterangan resmi, Kamis (10/9/2026).

Selain kinerja pendapatan dan laba, Jasa Marga juga menjaga profil risiko utangnya. Gearing ratio perseroan tercatat pada level 1,2 kali, sedangkan Interest Coverage Ratio (ICR) meningkat menjadi 3,9 kali.

Kondisi tersebut menunjukkan kapasitas perseroan dalam memenuhi kewajiban finansial sekaligus mempertahankan ruang untuk melanjutkan investasi strategis dan pengembangan bisnis.

Hingga 30 Juni 2026, Jasa Marga memiliki 36 konsesi dengan total panjang 1.736 kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.294 kilometer jalan tol telah dioperasikan, atau merepresentasikan sekitar 42 persen dari total jalan tol yang beroperasi di Indonesia.

Besarnya jaringan tersebut menjadi salah satu basis Jasa Marga dalam mengembangkan bisnis. Perseroan tidak hanya mengandalkan pendapatan dari pengoperasian jalan tol, tetapi juga berupaya mengoptimalkan potensi ekonomi di sepanjang koridor yang dilalui jaringan tersebut.

“Kami melihat jaringan jalan tol sebagai sebuah network dengan value besar saat dikelola secara terintegrasi, yang dapat memperkuat hubungan antara pusat aktivitas ekonomi, kawasan industri, simpul logistik, maupun destinasi wisata, sehingga menciptakan peluang pertumbuhan baru di sepanjang jaringan,” ujar Rivan.

Salah satu pengembangan ekosistem tersebut dilakukan melalui transformasi Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) atau rest area menjadi Travoy Rest. Jasa Marga melihat rest area tidak hanya sebagai fasilitas pendukung perjalanan, tetapi juga sebagai ruang bagi aktivitas ekonomi, termasuk memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM dan produk lokal.

Perseroan juga mengembangkan sejumlah lini bisnis di luar bisnis utama, seperti building management, advertising dan utilitas, serta pengembangan Transit Oriented Development (TOD) dan Toll Corridor Development (TCD).

“Kami melihat setiap bagian dari koridor jalan tol memiliki potensi untuk menciptakan nilai. Rest area, misalnya, tidak hanya kami lihat sebagai fasilitas pendukung perjalanan, tetapi juga sebagai ruang yang dapat mempertemukan kebutuhan pengguna dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Pendekatan seperti ini yang terus kami kembangkan dalam membangun ekosistem jalan tol,” tutur Rivan.

Pengembangan ekosistem tersebut turut didukung pemanfaatan teknologi. Jasa Marga mengoperasikan Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) sebagai pusat integrasi pengelolaan informasi lalu lintas dan kondisi jalan secara real-time. Sementara aplikasi Travoy digunakan untuk merangkum berbagai kebutuhan perjalanan pengguna dalam satu platform digital.

“Teknologi kami tempatkan sebagai enabler untuk membuat operasional semakin efektif, pengelolaan aset semakin akurat, dan layanan kepada pengguna semakin terintegrasi. Sedangkan di balik modernisasi teknologi operasional, Jasa Marga turut memperkuat fondasi internal lewat transformasi budaya kerja (infraculture) berbasis nilai budaya ‘JSMR MOVE’. Didukung analitik data SDM terpadu (HC Analytics), Perseroan mencetak talenta unggul yang lincah dan adaptif dalam menjawab dinamika industri infrastruktur masa depan,” katanya.

Memasuki Semester II 2026, Jasa Marga berkomitmen menjaga keseimbangan antara pengembangan konektivitas infrastruktur dan ketahanan neraca keuangan. Perseroan akan menerapkan disiplin alokasi modal (CapEx discipline), menjaga stabilitas arus kas, serta memanfaatkan teknologi dalam operasional dan pengelolaan bisnis.

Ke depan, sambung Rivan, pihaknya ingin memastikan setiap investasi dan pengembangan yang dilakukan Jasa Marga memberikan kontribusi optimal terhadap pertumbuhan sekaligus menciptakan manfaat yang lebih luas.

“Kami juga ingin memastikan Jasa Marga tetap menjadi pilihan investasi yang tepercaya bagi pasar modal, serta setiap value creation dari aktivitas bisnis Perseroan dapat menghasilkan nilai yang berkelanjutan bagi pemegang saham, pengguna jalan, mitra usaha, masyarakat, dan perekonomian Indonesia,” tutup Rivan.

BERITA TERKAIT
- Advertisment -
Karir

POPULER