Jakarta, 11 September 2026 — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah akan mencicil utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh sekitar Rp1 triliun per tahun. Besaran cicilan tersebut dimungkinkan setelah pemerintah merestrukturisasi utang dengan memperpanjang tenor pembayaran hingga 80 tahun.
Purbaya menjelaskan, restrukturisasi dilakukan dengan merentangkan pembayaran utang Whoosh hingga 80 tahun. Cicilan tahunan diperkirakan berada di kisaran Rp 1 triliun, meskipun nominalnya dapat berbeda dari tahun ke tahun.
“80-90 (tahun) tapi di-stretch 80 tahun sudah ada cicilannya. Satu atau sedikit ribuan satu dari tahun ke tahun satu triliun, ada yang tinggi,” ujar Purbaya di kawasan Sunter, Jakarta Utara, dikutip Jumat (11/9/2026).
Dengan skema tersebut, beban pembayaran utang Whoosh dinilai tidak sebesar yang sebelumnya dibayangkan. Purbaya bahkan mengatakan generasi saat ini tidak perlu terlalu memikirkan pelunasan utang proyek tersebut.
“Iya kita sudah mati, santai saja. Jadi tidak semengerikan yang dibayangkan sebelumnya karena utangnya sudah direstrukturisasi,” ucapnya.
Seiring dengan restrukturisasi tersebut, pemerintah juga menata kewajiban dan aset Whoosh melalui skema pengelolaan khusus. Kementerian Keuangan akan terlibat dalam pengelolaan tersebut melalui badan khusus yang berada di bawah kementerian.
Pemerintah sebelumnya sempat mempertimbangkan penggunaan dua Special Mission Vehicle (SMV) bersama Indonesia Investment Authority (INA) untuk mengelola kewajiban proyek tersebut. Namun, setelah mempertimbangkan besaran cicilan, pemerintah menilai satu SMV sudah cukup.
“Ternyata cicilannya enggak gede-gede amat, seharusnya sih satu SMV aja, satu SMV cukup,” kata dia.
Purbaya menegaskan pemerintah akan memilih struktur pengelolaan yang paling efisien dengan mempertimbangkan skema pembayaran utang yang telah direstrukturisasi. Bentuk pengelolaan juga akan disesuaikan dengan besaran kewajiban tahunan proyek kereta cepat tersebut.


