Jakarta, 22 September 2026 – Perum Perumnas memperkuat pengembangan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan dengan mengintegrasikan hunian dan transportasi publik.
Pendekatan ini dilakukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian terjangkau sekaligus menekan biaya dan waktu mobilitas sehari-hari.
Perumnas menilai keterjangkauan hunian MBR tidak hanya ditentukan dari harga rumah, tetapi juga total biaya hidup yang mencakup biaya transportasi, waktu perjalanan, serta akses terhadap fasilitas dan pusat aktivitas perkotaan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan Perumnas dilakukan melalui konsep Transit-Oriented Development (TOD). Melalui konsep tersebut, kawasan hunian diintegrasikan dengan sistem transportasi publik sehingga masyarakat memiliki akses mobilitas menuju pusat bisnis, pendidikan, perdagangan, maupun fasilitas perkotaan lainnya.
Sejumlah kawasan TOD Perumnas juga dilengkapi alokasi hunian subsidi bagi MBR. Di antaranya Samesta Mahata Tanjung Barat sebanyak 256 unit, Samesta Mahata Margonda 182 unit, dan Samesta Mahata Serpong sebanyak 330 unit.
Plt. Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan mengatakan keterjangkauan hunian perlu dilihat secara lebih menyeluruh, termasuk dari sisi lokasi dan akses transportasi publik.
“Hunian yang terjangkau bagi MBR tidak cukup hanya diukur dari harga rumah. Lokasi, akses terhadap transportasi publik, serta biaya dan waktu perjalanan sehari-hari juga menentukan keterjangkauan yang sesungguhnya. Karena itu, Perumnas terus mendorong penyediaan hunian subsidi yang lebih dekat dengan pusat aktivitas dan terintegrasi dengan transportasi publik,” ujar Imelda dalam keterangan resmi, Selasa, (22/9/2026).
Selain kawasan TOD, Perumnas mengembangkan hunian subsidi di sejumlah wilayah strategis yang dekat dengan pusat aktivitas masyarakat. Pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui Samesta Sentraland Cengkareng, Samesta Grand Sentraland Karawang, Samesta Jakabaring Palembang, proyek Jatim II Pasuruan, dan Proyek Cirebon.
Perumnas juga mengembangkan hunian subsidi vertikal melalui Samesta Alonia Jakarta di Kemayoran. Sebanyak 609 unit hunian subsidi dikembangkan untuk memberikan alternatif tempat tinggal yang lebih terjangkau dan dekat dengan pusat aktivitas perkotaan.
Pengembangan hunian vertikal tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan keterbatasan lahan di Jakarta. Samesta Alonia juga menyasar kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok milenial dan generasi muda, terhadap hunian di kawasan dengan konektivitas yang baik.
Selain membangun kawasan baru, Perumnas turut melakukan revitalisasi rumah susun di kawasan perkotaan, di antaranya di Tanah Abang dan Klender. Revitalisasi tersebut menjadi bagian dari optimalisasi aset Perumnas sekaligus upaya menghadirkan kembali hunian vertikal yang layak dan relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Melalui revitalisasi, kawasan hunian diarahkan menjadi lebih berkualitas, modern, dan aman. Pengembangan tersebut juga diharapkan dapat mendorong kembali aktivitas sosial dan ekonomi di sekitar kawasan.
“Perumnas ingin agar MBR tidak selalu dihadapkan pada pilihan antara rumah yang terjangkau tetapi jauh dari pusat aktivitas, atau lokasi yang strategis tetapi tidak terjangkau. Melalui TOD, revitalisasi kawasan, dan pengembangan hunian vertikal seperti Samesta Alonia, Perumnas berupaya menghadirkan alternatif hunian yang lebih dekat, terkoneksi, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan,” ujar Imelda.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat kontribusi Perumnas dalam mendukung program 3 Juta Rumah, khususnya melalui pengembangan hunian subsidi bagi MBR. Pengembangan diarahkan tidak hanya untuk menyediakan hunian yang layak, tetapi juga terjangkau, terkoneksi, dan dekat dengan pusat aktivitas perkotaan.



